Skip to content

Wujudkan SDGs 4 dan 17, Grup Riset FK UNS Berdayakan Kader Kalijambe untuk Deteksi Dini Kesehatan Paru Pekerja Mebel

Screenshot

SRAGEN — Dalam upaya nyata mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), Tim Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan program pemberdayaan kesehatan terpadu di wilayah kerja Puskesmas Kalijambe, Kabupaten Sragen.

Program ini berfokus pada pelatihan dan peningkatan kapasitas kader kesehatan serta deteksi dini penyakit paru okupasional pada pekerja industri mebel informal di Desa Sambirembe. Langkah kolaboratif ini diambil mengingat masifnya paparan debu kayu halus hasil produksi mebel yang berisiko tinggi memicu Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan gangguan paru restriktif.

Pendidikan Berkualitas (SDG 4): Alih Pengetahuan Melalui Metode ToT

Sejalan dengan pilar SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), tim pengabdi yang diketuai oleh Prof. Tonang Dwi Ardyanto, dr., Sp.PK(K), Ph.D. tidak hanya melakukan pemeriksaan kesehatan satu arah, melainkan berfokus pada proses alih pengetahuan (transfer of knowledge) yang berkelanjutan. Tim FK UNS menyelenggarakan pelatihan metode Training of Trainers (ToT) bagi 15 kader posyandu dan petugas kesehatan setempat.

Para kader dididik secara intensif untuk menguasai penggunaan instrumen penapisan non-invasif berupa Kuesioner PUMA. Melalui edukasi ini, kader kesehatan di tingkat RT/RW kini memiliki kemampuan mandiri untuk menyaring pekerja yang memiliki faktor risiko tinggi kerusakan paru sebelum gejala klinis stadium lanjut muncul.

“Pemberdayaan masyarakat adalah kunci utama keberlanjutan. Dengan memberikan edukasi yang terstandar kepada para kader, kita sedang membangun sistem pertahanan kesehatan preventif yang mandiri di tingkat akar rumput,” ujar Prof. Tonang dalam sambutannya.

Kemitraan Multipihak (SDG 17): Sinergi Akademisi, Praktisi, dan Komunitas

Implementasi program ini menjadi potret nyata dari keberhasilan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). FK UNS membangun sinergi lintas sektor yang melibatkan akademisi (tim dokter spesialis dan mahasiswa FK UNS), praktisi kesehatan masyarakat (Puskesmas Kalijambe), serta sektor usaha informal (tiga Kelompok Usaha Bersama/KUB pengrajin mebel Desa Sambirembe).

Kepala Puskesmas Kalijambe, drg. Sri Ambar Yuli Wanarum, menyambut hangat inisiatif ini. Menurutnya, kolaborasi dengan institusi pendidikan tinggi seperti UNS sangat membantu puskesmas dalam menjangkau sektor pekerja informal yang selama ini sulit tersentuh program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

“Kerja sama ini membuka jalan bagi kami di puskesmas untuk mengintegrasikan hasil skrining lapangan ke dalam database layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pekerja yang terdeteksi mengalami penurunan fungsi paru kini dapat ditindaklanjuti secara lebih cepat dan terstruktur,” jelas drg. Sri Ambar.

Screenshot

Temuan Klinis: Urgensi Kepatuhan APD Masker Standar

Dalam kegiatan yang diikuti oleh $84$ pekerja aktif tersebut, tim pengabdi juga melakukan pemeriksaan objektif fungsi paru menggunakan alat spirometri digital portabel. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan: hanya $35.7\%$ pekerja yang memiliki fungsi paru normal, sementara sisanya ($64.3\%$) terdeteksi mengalami kelainan fungsi paru, baik pola obstruktif maupun restriktif.

Dr. Hendrastutik Apriningsih, dr., Sp.P (K), M.Kes., pakar pulmonologi FK UNS yang juga menjadi narasumber, menjelaskan bahwa tingginya angka gangguan pernapasan ini berbanding lurus dengan rendahnya kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

“Banyak pekerja mebel yang merasa tidak nyaman menggunakan respirator standar seperti N95 atau FFP2 dan memilih menggunakan masker kain biasa, padahal masker kain tidak mampu memfiltrasi debu kayu halus berukuran mikro. Melalui edukasi andragogi ini, kami mempraktikkan langsung cara pengujian kerapatan masker (fit-testing) agar para pekerja dapat terlindungi dengan nyaman selama bekerja,” tutur dr. Hendrastutik.

Screenshot

Komitmen Keberlanjutan Pasca-Program

Sebagai bentuk nyata output yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, Tim Pengabdian FK UNS menyerahkan secara simbolis Buku Modul Pelatihan Kesehatan Kerja dan lembar kuesioner skrining PUMA kepada pihak Puskesmas dan perwakilan kader.

Ke depan, para kader kesehatan yang telah dilatih akan melakukan pemantauan berkala secara mandiri setiap tiga bulan melalui Posbindu K3 (Pos Upaya Kesehatan Kerja). Dengan demikian, kesehatan para pekerja mebel yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga di Desa Sambirembe dapat terus terjaga secara mandiri, sejalan dengan visi besar SDGs untuk tidak meninggalkan siapa pun di belakang (leave no one behind).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *